Benarkah nasi putih bisa memicu diabetes dan obesitas? Ini 4 Mitos Nasi yang Perlu diluruskan

Benarkah nasi putih bisa memicu diabetes dan obesitas? Ini 4 Mitos Nasi yang Perlu diluruskan

MASA DEPAN DIMULAI DARI SEKARANG DARI SSB HAPPYLIFE MEMBANGUN INDONESIA YANG SEHAT SUKSES BAHAGIA‚Äč

Logo SSB Happylife - PNG

Benarkah nasi putih bisa memicu diabetes dan obesitas? Ini 4 Mitos Nasi yang Perlu diluruskan

Senin, 25 Jul 2022 12:24 WIB

KLIKSSB.com – Nasi putih merupakan makanan pokok di banyak negara, salah satunya temasuk makanan pokok masyarakat Indonesia. Tingkat konsumsi nasi di Negara kita tergolong sangat tinggi, malahan lebih tinggi dari sumber makanan berkarbohidrat lainnya.

Padahal, menurut Total Diet Study 2014 yang dilakukan di DKI Jakarta saja, menunjukkan hampir semua (98%) penduduk DKI Jakarta mengonsumsi nasi setiap hari dengan konsumsi harian 173,3 gram per orang.

Di sisi lain, ada juga sebagian masyarakat yang sudah mulai mengurangi konsumsi nasi. Mereka mungkin berpikir bahwa makan nasi putih bisa membuat mereka gemuk atau bisa menyebabkan gula darah tinggi. Apakah benar seperti itu? Simak saja fakta dan mitos makan nasi memicu gemuk dan obesitas berikut ini.

Mitos yang mungkin saja bisa menyesatkan di tengah masyarakat tentang makan nasi putih

1. Nasi bikin gemuk

Nasi sebenarnya sama dengan karbohidrat lain, seperti roti, mie, atau pasta. Jadi, sebenarnya bukan nasi yang menyebabkan tubuh menjadi gemuk. Lemak pada dasarnya disebabkan oleh jumlah kalori (antara yang masuk dan yang keluar) tidak seimbang di dalam tubuh.

Artinya, jika seseorang makan nasi terlalu banyak ditambah dengan konsumsi mie, makanan bertepung, kue, atau makanan manis, tentu saja kalori dalam tubuh akan menumpuk dan menyebabkan seseorang menjadi gemuk.

Jika memang ingin menurunkan berat badan, batasi porsi nasi saat makan. Termasuk sumber karbohidrat lain yang memiliki kalori tinggi. Seseorang tidak perlu menghindari makan nasi putih, lebih baik atur asupan makanannya agar kalori yang masuk ke dalam tubuh tidak berlebihan.

2. Nasi bisa bikin diabetes atau kencing manis

Orang Indonesia terbiasa makan nasi putih tiga kali sehari, dan dalam jumlah yang sangat banyak. Selain itu, berbagai konsumsi makanan manis, seperti kue kering, biskuit, permen, teh manis, dan lain-lain. Ditambah lagi sehari-harinya tidak diimbangi dengan konsumsi sayur dan buah. Maka tidak heran jika banyak orang yang menderita diabetes atau kencing manis.

Sebenarnya nasi sendiri bukanlah penyebab utama diabetes. Namun, kebiasaan mengonsumsi nasi secara berlebihan dan rutin setiap hari juga mendukung perkembangan penyakit diabetes.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health juga menunjukkan bahwa semakin banyak porsi nasi putih yang dimakan setiap hari, semakin besar kemungkinan seseorang terkena penyakit diabetes tipe 2.

Namun hal ini bukan berarti bahwa seseorang tidak boleh makan nasi untuk menghindari diabetes. Tetap boleh, asalkan memperhatikan porsinya. Lagi pula, ada banyak faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang terkena diabetes, seperti faktor keturunan atau genetik.

3. Nasi mengandung banyak gula

Memang nasi merupakan salah satu makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi, dimana pengaruhnya terhadap kadar gula darah sangat cepat. Namun sebenarnya, tidak semua nasi dengan jenis lain seperti itu. Diketahui terdapat dua jenis nasi yang mungkin sudah sering kita temui, yaitu nasi putih berasal dari beras putih biasa dan nasi merah dari beras merah. Setiap jenis nasi mengandung nutrisi atau kandungan gizi yang berbeda.

Jika seseorang takut gula darah naik setelah makan nasi, dia bisa memilih nasi merah sebagai pengganti nasi putih sebagai sumber karbohidrat. Nasi merah mengandung lebih banyak serat dan gula lebih rendah daripada nasi putih. Jadi, konsumsi nasi yang berasal dari beras merah akan lebih baik bagi orang yang ingin membatasi asupan gulanya.

4. Nasi tidak mengandung nutrisi penting

Betul memang, secara umum nasi dikenal sebagai sumber karbohidrat (gula). Tapi, selain karbohidrat, ternyata nasi putih juga mengandung nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan tubuh. Misalnya serat, protein, selenium, seng/zinc, dan magnesium.

Bahkan saat ini, banyak beras yang diperkaya dengan tiamin, riboflavin, dan niasin. Ketiga zat yang ada didalamnya menjadi sumber asam folat atau vitamin B9. Kandungan ini sangat baik untuk kesehatan kandungan ibu hamil dan perkembangan janin.

Jadi, nasi tidak seburuk yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Indonesia selama ini. Namun, kebiasaan konsumsi yang buruk membuat nasi menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan, seperti obesitas dan diabetes.

Sebaiknya singkirkan kesalahpahaman atau mitos nasi ini dari pikiran kita. Anggap saja nasi adalah karbohidrat yang sama dengan sumber karbohidrat lainnya, di mana kita harus membatasi asupannya agar tidak berlebihan. ***

Klik tombol WhatsApp di pojok kanan bawah dari layar Mobile atau PC Anda

Temukan dan Ikuti Kami di Sosial Media

Sahabat sehat, Waspada Diabetes atau Kencing Manis!!!

Sahabat sehat, Waspada Diabetes atau Kencing Manis!!!

MASA DEPAN DIMULAI DARI SEKARANG DARI SSB HAPPYLIFE MEMBANGUN INDONESIA YANG SEHAT SUKSES BAHAGIA‚Äč

Sahabat sehat, Waspada Diabetes atau Kencing Manis!!

Kamis, 07 Jul 2022 14:36 WIB

KLIKSSB.com – Sahabat sehat, suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi (banyak penyebab) yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai gangguan metabolisme karbohidrat, lipid (lemak) dan protein akibat gangguan fungsi insulin.

Diabetes atau kencing manis adalah tingginya kadar gula darah akibat kegagalan produksi insulin oleh pankreas. Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara dengan diabetes terbesar di dunia.

Gejala diabetes antara lain sering buang air kecil terutama pada malam hari, merasa lapar dan haus, berat badan turun dengan cepat tetapi nafsu makan meningkat, merasa mengantuk dan lelah, mudah berkembang borok atau abses dengan penyembuhan yang lama, gatal-gatal terutama pada kulit, alat kelamin, alat kelamin luar, sering kesemutan, gairah seks menurun, penglihatan kabur, dan ibu yang melahirkan bayi lebih dari 4 kg.

Perlu juga diketahui komplikasi yang dapat dialami oleh penderita diabetes yaitu stroke, kerusakan ginjal, impotensi, infeksi (gangren), amputasi kaki, penyakit jantung, kebutaan, gigi goyang, dan hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah).

Hipoglikemi adalah Suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara abnormal rendah. Dalam keadaan normal, tubuh mempertahankan kadar gula darah antara 70-110 mg/dl. Kadar gula darah yang rendah dapat menyebabkan gangguan fungsi berbagai sistem organ/ menimbulkan gejala.

Gejala hipoglikemi yaitu terdiri perubahan mood, gemetar, pucat, penglihatan kabur, pusing, sakit kepala, sangat lelah, dan lapar.

Ciri hipoglikemi ringan yaitu simtomatik yang dapat diatasi sendiri serta tidak ada gangguan aktivitas sehari-hari yang nyata, dan glukosa oral sebanyak 10-20 g, idealnya dalam bentuk tablet, jelly atau 150-200 ml minuman yang mengandung glukosa (seperti teh atau jus buah segar).

Pemberian makanan tinggi lemak seperti coklat sebaiknya tidak diberikan karena dapatmenghambat absorpsi glukosa. Sedangkan hipoglikemi berat yaitu pasien tidak sadarkan diri (pingsan).

Sahabat sehat, ada beberapa 5 kunci sehat untuk penderita diabetes antara lain yaitu diet sehat DM, olahraga/aktivitas fisik, menghindari stres, periksa gula darah secara teratur, dan menghindari aktivitas atau kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya luka.

(Sumber: Tim PKRS RSUP Dr. Kariadi, Semarang, Jawa Tengah/rskariadi.co.id)

Klik tombol WhatsApp di pojok kanan bawah dari layar Mobile atau PC Anda

Temukan dan Ikuti Kami di Sosial Media