Mengenal Aritmia Gangguan Irama Jantung, Bisa Terlalu Cepat, Terlalu Lambat atau Tidak Teratur

Mengenal Aritmia Gangguan Irama Jantung, Bisa Terlalu Cepat, Terlalu Lambat atau Tidak Teratur

MASA DEPAN DIMULAI DARI SEKARANG DARI SSB HAPPYLIFE MEMBANGUN INDONESIA YANG SEHAT SUKSES BAHAGIA​

Logo SSB Happylife - PNG

Mengenal Aritmia Gangguan Irama Jantung, Bisa Terlalu Cepat, Terlalu Lambat atau Tidak Teratur

Selasa, 23 Agu 2022 14:53 WIB

KlikSSB.com – Aritmia merupakan gangguan yang terjadi pada irama jantung. Apabila dalam tubuh seseorang dengan aritmia mungkin dia akan merasakan bahwa irama jantungnya terlalu cepat, terlalu lambat, atau malah tidak teratur.

Padahal, aritmia normal terjadi pada jantung yang sehat. Namun, yang akan menjadi persoalan kesehatan jika terjadi secara terus menerus atau berulang kali, aritmia bisa saja mengindikasikan terdapat masalah pada organ jantung Anda.

Jenis Aritmia

Terdapat beberapa jenis aritmia yang paling umum adalah:

  • Atrial fibrilasi, yaitu suatu kondisi ketika jantung berdetak lebih cepat dan tidak teratur
  • AV blok, yaitu suatu kondisi ketika jantung berdetak lebih lambat
  • Supraventrikular takikardi, yaitu suatu kondisi ketika jantung berdetak terlalu cepat
  • Ventrikel ekstra sistol, yaitu suatu kondisi ketika ada denyut lain di luar denyut normal
  • Ventrikel fibrilasi, yaitu kondisi ketika jantung hanya bergetar.

Penyebab Aritmia

Aritmia terjadi ketika impuls listrik yang berfungsi mengatur detak jantung tidak bekerja dengan baik. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kondisi berikut:

  • Konsumsi obat pilek atau obat alergi
  • Sleep apnea
  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Gangguan elektrolit, seperti kelebihan atau kekurangan kalium, hiperkalemia, dan hipomagnesemia.
  • Gangguan tiroid, misalnya hipertiroidisme
  • Kelainan katup jantung
  • Penyakit jantung bawaan
  • Penyakit jantung koroner
  • Serangan jantung
  • Kardiomiopati.

Selain kondisi medis, aritmia juga dapat dipicu oleh gaya hidup kita yang tidak sehat, seperti:

  • Tidak dapat mengelola stres dengan baik
  • Kurang tidur
  • Merokok
  • Mengonsumsi minuman beralkohol atau berkafein secara berlebihan
  • Menyalahgunakan NAPZA.

Gejala Aritmia

Aritmia bisa terjadi tanpa menimbulkan gejala, sehingga kadang tidak disadari oleh penderitanya. Gejala aritmia yang dapat muncul antara lain:

  • Jantung berdetak lebih cepat dari normal (takikardia)
  • Jantung berdetak lebih lambat dari normal (bradikardia)
  • Pusing
  • Pingsan
  • Cepat lelah
  • Sesak napas
  • Nyeri dada.

Perlu diketahui, seseorang yang mengalami gejala di atas belum tentu mengalami aritmia. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh dokter diperlukan agar dapat diketahui apa yang memicu gejala tersebut.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin ke dokter ahli kardiologi, terutama bila Anda menderita hipertensi, gangguan tiroid, diabetes, penyakit jantung, atau pernah menjalani operasi jantung.

Segera ke dokter bila sering mengalami nyeri dada, sesak napas, dan jantung berdebar, terutama jika keluhan tersebut muncul secara tiba-tiba.

Bila ada orang di sekitar Anda jatuh pingsan setelah sebelumnya mengeluhkan gejala-gejala di atas, segera bawa ia ke IGD di rumah sakit terdekat.

Diagnosis Aritmia

Untuk menentukan apakah pasien menderita aritmia, dokter akan menanyakan gejala yang muncul dan mendengarkan detak jantung pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Elektrokardiogram (EKG), untuk merekam aktivitas listrik jantung dalam kondisi berbaring
  • Holter monitoring, untuk merekam aktivitas listrik jantung ketika pasien beraktivitas selama seharian
  • Uji latih jantung, untuk mengukur aktivitas jantung saat pasien melakukan latihan fisik, seperti mengayuh sepeda statis atau berjalan di atas treadmill.
  • Echo jantung, untuk melihat struktur dan fungsi jantung dengan bantuan gelombang suara.

Dokter juga dapat menjalankan pemeriksaan lain guna melihat kemungkinan adanya penyakit yang mendasari aritmia, yaitu:

  • Pengukuran kadar elektrolit
  • Pengukuran kadar gula darah
  • Pemindaian
  • Katerisasi jantung
  • Biopsi.

Pengobatan Aritmia

Pengobatan aritmia bertujuan untuk mengatasi irama jantung yang tidak teratur. Metode yang digunakan tergantung pada jenis gangguan irama jantung yang dialami, apakah terlalu cepat atau terlalu lambat.

Metode pengobatannya meliputi:

Obat-obatan

Obat-obatan yang diresepkan dokter untuk mengatasi aritmia adalah obat antiaritmia. Dokter juga akan meresepkan warfarin untuk menurunkan risiko terjadinya penggumpalan darah.

Ablasi

Dokter akan melakukan tindakan ablasi jantung dengan prosedur kateterisasi jantung. Prosedur ini dilakukan dengan cara memasang satu atau lebih kateter di pembuluh darah yang menuju ke jantung.

Elektroda yang terdapat di ujung kateter akan menghancurkan sebagian kecil jaringan di jantung yang menyebabkan gangguan irama jantung, sehingga irama jantung menjadi normal kembali.

Alat pacu jantung

Dokter akan memasang alat pacu jantung di bawah kulit, tepat di bawah tulang selangka. Alat pacu tersebut berfungsi mengembalikan irama jantung yang terlalu lambat menjadi normal.

ICD

Implantable cardioverter-defribilator (ICD) adalah alat kecil yang dipasang di dada. Alat ini digunakan pada pasien yang berisiko mengalami henti jantung mendadak. Implan alat ini akan mendeteksi tanda henti jantung dan otomatis mengalirkan listrik untuk mengatasinya.

Komplikasi Aritmia

Pada beberapa kasus, aritmia dapat memburuk dan menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Demensia
  • Penyakit Alzheimer
  • Stroke
  • Gagal jantung
  • Henti jantung mendadak
  • Kematian mendadak pada bayi (SIDS).

Pencegahan Aritmia

Seperti telah dijelaskan di atas, banyak faktor yang bisa menyebabkan aritmia. Oleh karena itu, pencegahannya tergantung pada penyebab aritmia tersebut.

Secara umum, artimia dapat dicegah dengan menjaga kesehatan jantung, yaitu dengan:

  • Berhenti merokok
  • Mengonsumsi makanan sehat
  • Menjaga berat badan ideal
  • Berolahraga secara teratur
  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol dan berkafein
  • Menghindari konsumsi obat tanpa petunjuk dokter.

Penderita penyakit jantung perlu melakukan kontrol rutin ke dokter agar kondisi penyakitnya tidak makin memburuk dan menimbulkan aritmia. Penderita juga perlu mengonsumsi obat secara teratur sesuai anjuran dokter dan segera ke dokter begitu gejala memburuk.***

Klik tombol WhatsApp di pojok kanan bawah dari layar Mobile atau PC Anda

Temukan dan Ikuti Kami di Sosial Media

Penyakit Jantung pada dewasa dan anak, Bisakah dicegah sejak dini? Ini penjelasan Ahli

Penyakit Jantung pada dewasa dan anak, Bisakah dicegah sejak dini? Ini penjelasan Ahli

MASA DEPAN DIMULAI DARI SEKARANG DARI SSB HAPPYLIFE MEMBANGUN INDONESIA YANG SEHAT SUKSES BAHAGIA​

Penyakit Jantung pada dewasa dan anak, Bisakah dicegah sejak dini?
Ini penjelasan Ahli

Selasa, 19 Jul 2022 16:06 WIB

KLIKSSB.com – Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia, dan kebanyakan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Prediksi untuk ke depan akan menjadi 23 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular per tahun pada tahun 2030, dan akan menjadi penyebab utama kematian.

Saat ini terdapat sekitar 17 juta kematian per tahun akibat penyakit ini dan merupakan 31 persen dari seluruh kematian di dunia.

Disampaikan oleh Prof Dr dr Sukman Tulus Putra, SpA(K), FACC, FESC, Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Secara umum, manifestasi klinis penyakit kardiovaskular terjadi pada orang dewasa dan lansia sebelum usia 60 tahun. Namun, proses patogenesis aterosklerosis yang menyebabkan penyakit kardiovaskular telah terjadi sejak usia dini, terutama pada masa kanak-kanak dan remaja.

Dengan demikian, faktor risiko kardiovaskular dapat dideteksi pada masa kanak-kanak dan remaja yang sangat terkait dengan perkembangan proses aterosklerosis pada masa usia remaja dan dewasa. Oleh karena itu, deteksi individu terhadap faktor risiko kardiovaskular dan intervensi pada masa kanak-kanak dan remaja merupakan strategi yang sangat penting untuk mengurangi risiko PKV di usia dewasa.

Menurut WHO di Indonesia tahun 2016, penyakit jantung merupakan 35 persen dari seluruh kematian yang berjumlah 1.863.000, disusul oleh kanker (12 persen) dan penyakit tidak menular lainnya.

Prof Dr Sukman Tulus Putra, SpA(K) mengatakan, meski belum ada studi epidemiologi yang komprehensif di Indonesia, beberapa penelitian pada anak sekolah menunjukkan faktor risiko kardiovaskular yang tinggi pada anak.

Identifikasi dan intervensi faktor-faktor tersebut pada anak dan remaja merupakan upaya untuk mencegah dan menurunkan angka kejadian penyakit kardiovaskular termasuk penyakit jantung koroner.

Pada kasus penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh aterosklerosis, semakin banyak faktor risiko, semakin tinggi pula morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular.

Adapun faktor risiko kardiovaskular dikelompokkan dalam 3 bagian, yakni: faktor risiko yang dapat diubah (modifiable/ changeable), disebut juga sebagai faktor risiko tradisional meliputi hiperlipidemia, obesitas, inaktivitas/sedentary, diabetes melitus, merokok dan hipertensi, juga ada faktor risiko intrinsik meliputi genetik, lingkungan dan suscestibility, serta faktor risiko yang baru muncul (emerging risk factors) meliputi inflamasi/infeksi sistemik, sitokine, CRP dan homosistein.

Faktor risiko yang ada pada individu akan menyebabkan disfungsi endotel vaskular yang mengakibatkan penurunan produksi NO, peningkatan respon inflamasi endotel dan hiperplasia intima yang pada akhirnya akan membentuk lesi aterosklerotik yang akan menyebabkan penyakit jantung koroner. Prosesnya terjadi perlahan tapi pasti selama beberapa dekade kehidupan.

Ada 3 fokus utama yang dapat mencegah faktor risiko kardiovaskular pada anak dan remaja dari aspek promosi kesehatan, yaitu: nutrisi, aktivitas fisik, dan paparan tembakau (rokok).

Nutrisi sejak bayi berupa pemberian ASI eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan, ternyata anak usia sekolah menengah (remaja) memiliki ketebalan intima media arteri karotis yang lebih tipis dan berbeda nyata dibandingkan pada remaja yang pada masa bayi minum lebih sedikit susu formula atau ASI kurang dari 4 bulan.

Hal ini membuktikan bahwa nutrisi yang baik untuk anak sejak dini dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis di kemudian hari. Sementara itu, anak-anak yang tidak aktif atau kurang (sedentary lifestyle) dan paparan tembakau yang berlebihan terbukti meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama penyakit jantung koroner yang saat ini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

“Deteksi faktor risiko kardiovaskular melalui uji tapis pada usia anak dan remaja, dan strategi untuk melakukan intervensi merupakan kunci utama dalam menurunkan angka kejadian PKV di usia dewasa dan lanjut. Masih tingginya angka kematian akibat PKV di Indonesia saat ini mungkin akibat minimnya kesadaran untuk mendeteksi dan mengintervensi faktor risiko kardiovaskular sejak usia dini, dan remaja pada sekitar 90 juta anak Indonesia. Sehingga diperlukan strategi dan langkah yang konkret dengan melibatkan semua sektor terkait, dari sektor kesehatan, pendidikan, organisasi profesi dan masyarakat itu sendiri,” kata Prof Dr dr Sukman Tulus Putra, SpA(K) yang juga ketua Purna Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/6/2022).

Berikut adalah tips menjaga kesehatan jantung sejak dini dari dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) – Spesialis kardiologi anak dan juga Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia:

Aktif bergerak

Ajak anak untuk berolahraga ringan dimulai dari jalan kaki Bersama, bersepeda, berenang, ataupun bermain di luar ruang terbuka.

Bersikaplah positif

Jadikan kesehatan jantung menyenangkan dengan memasukkan permainan ke dalam aktivitas keluarga Anda atau berjalan-jalan ke taman untuk piknik makan malam yang sehat.

Batasi waktu menonton atau di depan komputer

Waktu menonton yang berlebihan menyebabkan gaya hidup yang tidak banyak bergerak dan mengudap terus-menerus, yang meningkatkan risiko obesitas dan penyakit kardiovaskular. Batasi waktu menonton TV, komputer, dan telepon hingga dua jam setiap hari.

Lakukan pemeriksaan rutin sedari dini

Sejak lahir, kesehatan jantung bayi sudah bisa dimonitor secara rutin melalui Echo kardiografi atau Echo Jantung. Alat ini dapat mendeteksi secara dini apabila terdapat kelainan pada jantung anak sehingga bisa dilakukan pencegahan atau penanganan sedari awal. Konsultasikan lebih jauh dengan dokter anak Anda untuk memantau indikator kardiovaskular seperti BMI, tekanan darah, dan kolesterol.

Atur menu makan sehat anak

Utamakan asupan protein hewani untuk cegah stunting dan agar pertumbuhan anak optimal. Batasi seminimal mungkin snack junk food yang tinggi gula dan tinggi karbohidrat cepat serap untuk mencegah obesitas dan sindrom metabolik

Periksa asupan garam dan MSG

Hindari makanan olahan dan jauhkan tempat garam dan MSG dari meja makan.

Bersikaplah realistis

Tetapkan tujuan dan batasan yang realistis. Langkah-langkah kecil dan perubahan bertahap dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan anak Anda dari waktu ke waktu, jadi mulailah dari yang kecil dan tingkatkan.

“Tidak ada satupun penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tetaplah berpikiran positif dan yakinlah pada keajaiban Tuhan.”

Demikian informasi artikel kesehatan penyakit jantung pada dewasa dan anak yang dapat dilakukan pencegahan sejak dini, semoga bermanfaat.***

Klik tombol WhatsApp di pojok kanan bawah dari layar Mobile atau PC Anda

Temukan dan Ikuti Kami di Sosial Media